Jika Chairil Anwar menulis "Aku ingin hidup seribu tahun lagi"
Maka aku akan menulis sama
Sambil berharap nasib ku juga sama
Mati diusia muda
Katanya di dalam kubur itu menyakitkan
Terlebih untuk seseorang yang banyak dosa sepertiku
Tapi aku tak peduli
Aku ingin tetap mati
Lebih baik mati dan mendapatkan siksa hingga kiamat
Daripada hidup dalam kesemuan yang merajalela
Sakit di batin lebih menyiksa
Aku benar-benar ingin mati
Persetan orang berbicara apa
Sekumpulan munafik itu terus mencibir
Orang-orang bilang mereka baik, karena dibalut kain
Ah sudahlah, aku hanya ingin mati
Adzan berkumandang, aku akan bersiap
Bukan untuk sholat, tapi untuk mengucap doa
Ku dengar ini waktu yang baik
Tuhan, balikkanlah waktu
Aku tidak ingin mati,
Sungguh
Aku hanya ingin tak dilahirkan
Senin, 24 November 2014
Minggu, 23 November 2014
Sepi
Aku suka sepi. Karena sepi membuatku tenang. Memberikanku waktu untuk membaca dan merenung. Mengajariku cara untuk berbincang dengan diri sendiri.
Aku suka sepi. Karena sepi membuatku nyaman. Melindungiku dari keramaian yang mau menelanku. Mengajakku ke tempat terbaik untuk mengumpat dari ribuan kata yang mencariku.
Aku suka sepi. Tapi kini sepi tak suka aku. Perlahan dia mengambil semua waktuku. Mengecilkan tempat persembunyianku sehingga sesak yang terasa. Mengacaukan ketenanganku dan membisingkan pikiranku.
Aku tak menangis karena aku tak peduli. Aku juga bosan dengan sepi, makanya ku biarkan dia menikam ku dengan pisau kesunyian.
Sepi kini resmi membunuhku.
Pikiranku terlalu rumit, ku putuskan menulis ini
Bagaimana rasanya dirindukan? Mungkin pertanyaannya sama dengan bagaimana rasanya jatuh cinta?
Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka saling membagi tawa. Mereka menukar cerita. Mereka menghapus airmata. Dan mereka memberikan pelukan.
Mereka juga saling mengucap rindu. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana prosesnya sehingga rasa itu muncul? Jika lama tak bertemu. Ku putuskan untuk tak memperlihatkan diri sejenak. Namun ketika ku muncul, tak ada kata "rindu" yang terdengar, tak ada pelukan hangat yang mendarat.
Sampai pada satu ketika aku terhentak. Aku bukan hantu yang tak terlihat. Aku bukan bayang yang selalu diinjak. Tapi aku hanya orang asing, ada tapi kerap diabaikan.
Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka berpasangan. Mereka berpegang tangan. Mereka bercakap mesra. Dan mereka bercumbu.
Mereka juga saling mengucap cinta. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana proses seseorang bisa jatuh cinta? Aku tak menemukan jawabannya. Pertanyaan yang terlalu susah, sama seperti ketika seseorang terus bertanya kenapa manusia harus diciptakan kalau Dia tahu akan ada yang menentangNya?
Sampai pada satu ketika aku terhentak. Karena setiap orang datang dan pergi, makanya aku tak peduli, kini kujalani hidup tak sendiri, ada keluarga yang menemani, karena mereka selalu di hati.
Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka saling membagi tawa. Mereka menukar cerita. Mereka menghapus airmata. Dan mereka memberikan pelukan.
Mereka juga saling mengucap rindu. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana prosesnya sehingga rasa itu muncul? Jika lama tak bertemu. Ku putuskan untuk tak memperlihatkan diri sejenak. Namun ketika ku muncul, tak ada kata "rindu" yang terdengar, tak ada pelukan hangat yang mendarat.
Sampai pada satu ketika aku terhentak. Aku bukan hantu yang tak terlihat. Aku bukan bayang yang selalu diinjak. Tapi aku hanya orang asing, ada tapi kerap diabaikan.
Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka berpasangan. Mereka berpegang tangan. Mereka bercakap mesra. Dan mereka bercumbu.
Mereka juga saling mengucap cinta. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana proses seseorang bisa jatuh cinta? Aku tak menemukan jawabannya. Pertanyaan yang terlalu susah, sama seperti ketika seseorang terus bertanya kenapa manusia harus diciptakan kalau Dia tahu akan ada yang menentangNya?
Sampai pada satu ketika aku terhentak. Karena setiap orang datang dan pergi, makanya aku tak peduli, kini kujalani hidup tak sendiri, ada keluarga yang menemani, karena mereka selalu di hati.
Selasa, 30 September 2014
Flashback
Kalo ngomongin masa-masa SMA emang gakkan ada abisnya. Dari jaman yang
masih jadi adik kelas, jadi anak tengah, sampe jadi kakak kelas, itu semua
punya cerita tersendiri. Kayaknya juga gakkan bosen buat ngingat apalagi
ngebahasnya.
Gue bersekolah di SMK Sahid Jakarta jurusan Usaha Jasa Pariwisata atau UJP,
tapi pas gue kelas dua namanya diganti jadi Usaha Perjalanan Wisata (UPW). Bodo
amatlah ya, toh maksudnya sama-sama juga.
Sekolah gue gak besar, lapangannya pun kecil juga lahan parkirnya hanya
bisa dipakai untuk motor dan sedikit mobil, itu juga mobil sekolah. Kantinnya
pun kecil. Bangunannya berbentuk huruf “U” dengan 3 lantai. Lantai dasar
digunakan untuk Tata Usaha, Ruang Kabid, Ruang Kepala Sekolah dan wakilnya
(sebenarnya dideretan sini masih ada beberapa ruangan lagi, tapi gue gak tahu
itu ruangan apa?), Meeting Room yang
biasa dipakai juga untuk anak OSIS rapat, Ruang BP yang paling asik untuk
numpang ngadem, UKS, Mushola berukuran kecil, Front Office untuk jurusan Perhotelan, Kitchen beserta Restaurant
dan Mini Bar untuk jurusan Tata Boga,
dan Meja Ticketing untuk jurusan UJP.
Lantai 1 untuk semua siswa kelas 3, juga ada model room untuk jurusan
Perhotelan dan satu ruangan berisi komputer yang tersambung internet juga ada
sistem abacus dikomputer tersebut untuk siswa jurusan UJP pada saat itu.
Berbicara tentang lantai 1 dan lantai dasar, walaupun sudah ada tangga dikedua
sisi bangunan sekolah gue, tapi ada satu tangga yang terbuat dari besi di dekat
kelas 3 UJP. Menurut cerita dari tahun ke tahun yang gue denger si, tangga itu
hanya boleh dilewati oleh kelas 3 dan tentunya juga guru, kalo ada kelas 1 atau
2 yang naik, ya tahu sendirilah akibatnya. Tapi lama kelamaan semua siswa/i
baik itu kelas 3,2 ataupun 1 bebas-bebas aja menggunakan tangga itu, toh udah
gak jamannya lagi ya senioritas, tapi entah kalo sekarang, semoga tetap sama.
Oiya, tangga itu bernama tangga besi.
dibelakang 3 siswi itu yang dinamakan tangga besi
Lanjut ke lantai 2, kali ini ditujukkan untuk siswa kelas 2. Di lantai ini
juga terdapat ruangan untuk jurusan Perhotelan yaitu model room, juga ada ruang
guru, laboratorium komputer dan juga perpustakaan yang tempatnya super pe-we
untuk tidur, hehehe.
Lantai yang paling atas tentunya khusus kelas 1. Di lantai ini juga ada
mushola yang jauh lebih besar daripada lantai dasar, ruang osis yang lumayan
jarang kepake gara-gara gak ada AC-nya, ya semua ruangan sekolah gue memang
ber-AC kecuali mushola, UKS, dan ruangan OSIS, masih ada ruangan lagi di lantai
3 yang pastinya gak ber-AC juga, gudang. Tempat gue nemuin sepatu pantopel gue,
hahaha kenapa nemuinnya di sini? Karena gue dan mungkin hampir semua juga kali
ya ninggalin sepatu pantopel kita di sekolah, jadi beginilah nasibnya. Tapi
cuma sekali aja si gue nemuin di sini, hehehe.
Sebelum gue lanjut ke gambaran ruangan kelas, gue mau ngebahas tentang
seragam dulu. Karena sekolah gue swasta dan sekolah menengah kejuruan, jadi
pasti mempunyai seragam berbeda. Bahkan bisa dibilang setiap hari kami
mengganti seragam.
Hari Senin kami memakai seragam putih-putih, dasi hitam kaos kaki putih
dan sepatu pantopel. Hari selasa memakai seragam putih-abuabu sepatu , dasi
abu-abu, dan kaos kaki bebas. Hari Rabu putih-hitam-almamater, dasi hitam, kaos
kaki putih dan sepatu panpotel. Hari Kamis serba krem, sepatu dan kaos kaki
bebas. Hari Jum’at baju putih lengan panjang-rok abu-abu panjang dan kerudung
(pastinya untuk perempuan), kalo yang non-muslim biasa pake seragam hari
Selasa. Tapi biasanya gue mengganti kerudung dengan memakai dasi. Juga ada baju
olahraga yang berwarna krem coklat.
Selain seragam wajib, kami juga mempunyai seragam praktek. Untuk anak UJP
kami mempunya batik yang dipadu dengan rok hitam serta kaos kaki putih dan
sepatu pantopel. Ketika Uji Kompetensi ditambah dengan harnet dan stocking.
Untuk jurusan Perhotelan juga mempunyai seragam sendiri. Sama seperti jurusan
Tata Boga mereka juga punya, seragam prakteknya tuh kayak koki-koki gitu.
![]() |
| Hari Senin |
![]() |
| Hari Selasa |
![]() |
| Hari Rabu |
![]() |
| Hari Kamis |
![]() |
| Hari Jum'at |
![]() |
| Baju Olahraga |
![]() |
| Baju Batik Guiding |
Lanjut ke ruangan kelas, terutama ruang kelas gue. Karena mungkin bayaran
jurusan gue lebih mahal sedikit rupiah dari jurusan lain, jadi kelas gue mendapat
beberapa fasilitas dari sekolah. Ada kaca, radio plus mic-nya untuk kita
belajadi Guiding, komputer, lemari, dan loker untuk 2 orang per-loker. Gak
sampai situ, pas gue kelas 3, semua bangku dan meja kelas gue yang semula kayu
diganti jadi bangku yang kayak kuliahan gitu. Mungkin bedanya cuma bangkunya
berbusa dan mejanya bisa dinaik-turunkan. Tapi karena bangkunya kayak gini,
kami jadi gak bisa naro barang banyak diatas meja yang ukurannya cuma
seikhlasnya doang. Bahkan pas temen gue yang namanya Nurul Suci Riyanti buka
peta, meja gue pun hilang! Hahaha, padahal bangkunya dia dan gue gak begitu
dekat. Adalagi teman gue yang kesel gara-gara meja ini, namanya Putri Kosasi,
ceritanya dia lagi naro bukunya di meja, setelah itu dia naro lagi tempat
pensilnya di atas meja, tetapi malah terjatuh, namun pas dia baru saja ambil
tempat pensilnya dari lantai, benda yang berada di atas mejanya pun ikut
terjatuh, karena kesal akhirnya dia jatuhin aja semua benda yang ada di
mejanya. Hmmm, FYI aja teman gue yang satu ini otaknya emang rada-rada,
walaupun cantik, Tuham Maha Adil.
![]() |
Gue sangat menikmati masa-masa SMK gue. Selain dari sekolah gue kerjaannya
jalan-jalan mulu, ya karena sekolah Pariwisata, terlebih gue jurusan UJP atau
yang lebih dikenal Travel, guru serta staff karyawan di sekolah ini pun
asik-asik. Terlebih pas gue udah kelas 3, banyak banget memori yang tersimpan
rapih.
Mulai dari guru-guru SMK Sahid. Ada Miss Evi wali kelas 2 gue pada saat
itu yang lembut dan sabar banget. Bu Agustun guru Bahasa Indonesia, Bu Ermi
guru Pkn. Mami atau Bu Sisca yang sebelum dia datang gue sempat dengar kalo dia
itu katanya galak tapi pas ketemu biasa aja malah baik. Pak Agus guru paling
gantenglah di sekolah gue. Pak Charli guru BP yang kece abis terus biasa juga
dipanggil Pacar singkatan dari namanya. Mr. Mario atau yang lebih dikenal Joke
tapi sekarang Beliau udah gak ngajar lagi di SMK Sahid, ada Pak Tatang juga
wali kelas 1 tapi sama kayak Mr. Joke Beliau juga udah gak ngajar di sini lagi
sebetulnya sejak gue naik kelas 2. Ada Alm. Pak Budi yang sangat baik dan sabar
mengajar kami, Alm. Sensei Josep guru bahasa Jepang dari kelas 1 dan kelas 3
yang sangat mengejutkan kami ketika melihat raport nilai bahasa Jepang kita
bagus. Miss Yohana guru serba bisa, kenapa? Ya karena Beliau bisa mengajar
Ticketing, TPO, bahkan Guiding, tapi sebenarnya Beliau guru Ticekting. Aji guru
Guiding asal Bali yang, wah, gak terdefinisikanlah, beliau ini adalah Tour
Leader. Pak Bambang guru olahraga yang juga pembimbing OSIS, Pak Arga guru
olahraga yang masih muda jaman kelas 3. Pak Abi Prasidi, walaupun gue gak
sempat diajar sama dia, tapi karena dia juga gue bisa ikuti JFFP 2009 dan
mengerti sedikit tentang dunia perfilman sampai sekarang gue benar-benar
tertarik di dunia tersebut. Pak Bakri
guru Bahasa Inggris yang juga dekat dengan kami.
Daaaaan the one and only, my lovely teacher, Miss Rahmasari. Wali
kelas tersayang gue jaman kelas 3. Sosok yang sangat sabar ngadepin 41 anak
dengan berbagai macam karakter. Selalu di sisi kami walau sering kali
dikecewakan. Penyemangat ketika kami sedang terjatuh. Sosok yang akan selalu
gue ingat sampai kapan pun. Guru sekaligus kakak, orangtua, sahabat, Beliau
bisa menjadi itu semua. Gue ingat ketika kita semua sedang belajar bersama di
kelas, beliau melihat kita, lalu pergi, dan kembali datang dengan cemilan untuk
kami semua. Ah Miss Rahma, engkau begitu perhatian dengan kita. Gue pun masih
ingat, dulu setiap hari Beliau selalu megang rambut gue. Terima kasih atas
semua yang telah engkau berikan. I love
you J.
![]() |
| Surprise Ulang Tahun untuk Miss Rahma :) |
![]() |
| Miss Rahma :) |
![]() |
| Suprise kedua kalinya untuk Miss Rahma |
Oiya, masih ada lagi, Kepala Sekolah. Jaman kelas 1 Kepala Sekolah gue
bernama Ibu Winduri, sosoknya tegas dan lumayan ditakuti juga, Beliau juga
ngajar, waktu itu ngajar Geopar atau Geografi Pariwisata, gue pribadi sangat
menghormati beliau, karena menurut gue dibalik sikapnya yang tegas dan terkesan
nakutin, Beliau itu sangatlah baik. Pertengahan kelas 2 ada pergantian Kepala
Sekolah, jadi Pak Wisnu, nah kalo yang ini si, hmmm baik juga kok, asik diajak
ngobrol. Ada Kepsek ada juga Wakepsek, kalo di jamannya Pak Wisnu, Wakepseknya
itu Pak Masduki, guru agama Islam selain Umi. Jadi ingat jaman Ujian Praktek
kelas 3, gue dan hampir seluruh siswa/i kelas gue belum hafalan surat panjang,
hahaha.
Selain guru juga ada staff karyawan. Mulai dari Mbak Wati, OB sekolah yang
sangat gue hormatin, Beliau yang pertama kali ngucapin selamat ke gue pas
pengumuman kelulusan, makasih Mbak Wati. Ada juga Mas Gunadi yang sering
digodain sama temen gue, Fanny.
Adalagi Pak Haris selaku staff TU. Mbak Dewi yang sekaligus ngajar juga.
Daaaan Mbak Dian yang selalu ngacak-ngacak rambut gue kalo ketemu, hahaha.
Beliau memang baik abis, walau kata siswa/i yang lain Mbak Dian sering dibilang
jutek, tapi menurut gue nggak ah. Dulu gue bahkan sering kali bbm-an sama Beliau.
Tapi sayang, sekarang dia udah gak ada di Sahid lagi, Mbak Dian I Miss You L.
Mungkin sampai disini dulu cerita tentang sekolah gue. Sebenarnya masih
sangat banyak yang belum gue tuangkan ke sini, contohnya tentang berbagai macam
watak teman-teman gue, cerita tour-tour kita. Nanti akan gue lanjutkan kembali
ceritanya.
Selasa, 30 September 2014
Meike Adricka Yarangga
Keke
Rabu, 27 Agustus 2014
Funny Fanny
Bukannya aku tak ingin mengucap,
Tapi waktu itu tak ada apapun yang dapat ku berikan,
Walau kini hanya sebuah tulisan,
"Selamat Ulangtahun" dari hati ku haturkan
Hai pembuat tawa,
Saya tak tahu kabarmu kini, sedang jatuh cinta kah?
Dengan siapa? Apakah pria itu baik?
Hai pembawa bahagia,
Saya tak tahu bagaimana perasaanmu kini,
Bahagia? Sedih? Atau datar?
Hai penghapus gundah,
Saya tak tahu apa yang sangat kamu inginkan dalam hidupmu kini
Katakanlah, akan ku ucapkan "amin" di akhir kalimatmu
Semoga keberkahan selalu menyertaimu
Selamat datang di usia kembar kedua
Keke
Tapi waktu itu tak ada apapun yang dapat ku berikan,
Walau kini hanya sebuah tulisan,
"Selamat Ulangtahun" dari hati ku haturkan
Hai pembuat tawa,
Saya tak tahu kabarmu kini, sedang jatuh cinta kah?
Dengan siapa? Apakah pria itu baik?
Hai pembawa bahagia,
Saya tak tahu bagaimana perasaanmu kini,
Bahagia? Sedih? Atau datar?
Hai penghapus gundah,
Saya tak tahu apa yang sangat kamu inginkan dalam hidupmu kini
Katakanlah, akan ku ucapkan "amin" di akhir kalimatmu
Semoga keberkahan selalu menyertaimu
Selamat datang di usia kembar kedua
Keke
Putry Kosasi
Namanya Putry Kosasih. Saya kenal karena kita satu kelas, dulu. Tapi mulai dekat ketika kami menjadi partner tour, dulu. Dan tak lagi bertatap muka, kini.
Bisakah memutar waktu? Balik ke belakang atau maju ke depan?
Apa yang ingin kamu lihat? Masa depan atau masa lampau?
Adakah yang ingin kau perbaiki? Di masa lampau atau bahkan di masa depan?
Hallo Cantik, apa kabar?
Saya ingin membaca kalimat selain "aku baik" walaupun itu melegakan
Tapi "aku sedih" jauh menyakitkan karena gundah di hati kini terjawab
Do'a ku haturkan,
Saya tak berharap kamu selalu baik-baik saja, mustahil
Saya berharap hidupmu jauh lebih berwarna, dan kamu bisa dengan dewasa menyikapinya
Ceritakan saya ketika kamu sudah menjadi apa yang kamu inginkan,
Akan saya coretkan ke lembar putih menjadi sebuah tulisan tentang seorang teman paling cantik yang saya punya
Selamat menjelajah impian, Putry Cantik
Keke :)
Bisakah memutar waktu? Balik ke belakang atau maju ke depan?
Apa yang ingin kamu lihat? Masa depan atau masa lampau?
Adakah yang ingin kau perbaiki? Di masa lampau atau bahkan di masa depan?
Hallo Cantik, apa kabar?
Saya ingin membaca kalimat selain "aku baik" walaupun itu melegakan
Tapi "aku sedih" jauh menyakitkan karena gundah di hati kini terjawab
Do'a ku haturkan,
Saya tak berharap kamu selalu baik-baik saja, mustahil
Saya berharap hidupmu jauh lebih berwarna, dan kamu bisa dengan dewasa menyikapinya
Ceritakan saya ketika kamu sudah menjadi apa yang kamu inginkan,
Akan saya coretkan ke lembar putih menjadi sebuah tulisan tentang seorang teman paling cantik yang saya punya
Selamat menjelajah impian, Putry Cantik
Keke :)
Sabtu, 16 Agustus 2014
Kami
Detik pertama, kami saling pandang
Detik kedua, kami terdiam
Detik ketiga, kami membuang muka
Lalu kami berbicang,
Tapi tak saling berbicara
Kami tersenyum,
Tapi tak melengkungkan bibir
Kami berpeluk,
Tapi tak bersentuh
Tetapi kami berpandang,
Walau tak saling melihat
Dan kami mengumpat,
Tapi tak tersembunyi
Detik kedua, kami terdiam
Detik ketiga, kami membuang muka
Lalu kami berbicang,
Tapi tak saling berbicara
Kami tersenyum,
Tapi tak melengkungkan bibir
Kami berpeluk,
Tapi tak bersentuh
Tetapi kami berpandang,
Walau tak saling melihat
Dan kami mengumpat,
Tapi tak tersembunyi
Kamis, 14 Agustus 2014
Sahabat, saudara, partner
Sudah lama tak bercakap. Karena waktu yang tak menginjinkan, atau karena aku malah yang tak menginginkan?
Dini hari, sepi. Tidak ada suara jangkrik ataupun tokek yang biasanya terdengar. Cuma aungan anjing dari jauh. Kemarin, hari spesial untuk ketiga temanku. Mereka semakin dekat dengan mimpi. Kemarin, hari yang membuat jantung ketiga temanku berdegub kencang. Mereka sedang mempertaruhkan mimpi. Kemarin, ketiga temanku tersenyum lebar. Mereka akan meraih mimpi.
Kemarin, aku tidak ada. Tapi do'a selalu disekitar ketiga temanku. Kemarin, aku tidak ada. Tapi jantung sama berdebarnya seperti ketiga temanku. Kemarin, aku tidak ada. Mungkin untuk membiasakan diri tanpa kalian. Tanpa ada ketiga temanku yang menjadi alasanku untuk tetap pergi ke tempat itu.
Apalah arti raga jika kamu tahu do'a selalu terhaturkan?
Teruntuk sahabat, saudara, partner
Aku tak perlu ragamu, aku tahu kau selalu disisi
Aku tak perlu ragamu, aku tahu do'a terucap dari bibir
Aku tak perlu ragamu, karena rindu tak terlalu menyakiti
Selamat sarjana baru :)
Keke
Dini hari, sepi. Tidak ada suara jangkrik ataupun tokek yang biasanya terdengar. Cuma aungan anjing dari jauh. Kemarin, hari spesial untuk ketiga temanku. Mereka semakin dekat dengan mimpi. Kemarin, hari yang membuat jantung ketiga temanku berdegub kencang. Mereka sedang mempertaruhkan mimpi. Kemarin, ketiga temanku tersenyum lebar. Mereka akan meraih mimpi.
Kemarin, aku tidak ada. Tapi do'a selalu disekitar ketiga temanku. Kemarin, aku tidak ada. Tapi jantung sama berdebarnya seperti ketiga temanku. Kemarin, aku tidak ada. Mungkin untuk membiasakan diri tanpa kalian. Tanpa ada ketiga temanku yang menjadi alasanku untuk tetap pergi ke tempat itu.
Apalah arti raga jika kamu tahu do'a selalu terhaturkan?
Teruntuk sahabat, saudara, partner
Aku tak perlu ragamu, aku tahu kau selalu disisi
Aku tak perlu ragamu, aku tahu do'a terucap dari bibir
Aku tak perlu ragamu, karena rindu tak terlalu menyakiti
Selamat sarjana baru :)
Keke
Senin, 05 Mei 2014
feedback
Lo gila, gak waras itu yang dulu kamu ucapkan. Gakkan pernah lebih, pahamkan? Saya takkan pernah mau paham. Stop! Jauh-jauh lo dari gue harus ya? Saya tidak bisa. Gue jijik sama lo maaf.
***
Rokok. Satu batang, dua batang, tiga batang.
“Mau ngerokok berapa batang lagi?”
“Sampe satu bungkus abis”
“Gue gak bisa bayangin bentuk paru-paru lo”
“Gue aja males bayangin”
Dia beranjak.
“Mau ke mana?”
“Keluar, males ah jadi perokok pasif”
Dia selalu begitu, membuat saya terpaksa mematikan rokok ini.
“Coba dong berenti, paling nggak ngurangin deh”
Saya hanya diam. Menekuk lutut dan menyandarkan kepala di atasnya.
Malam. Bulan, bintang, setan.
“Jangan keseringan di atas genteng, gak takut ada setan apa?”
“Hahaha, dari atas ini bulan sama bintang jelas banget”
Dia menyukai ke dua benda langit itu. Saya, tidak.
“Mau kapan turunnya?”
“Gak tahu, naik sini”
“Lo tau gue takut tinggi”
“Takut itu mesti di lawan”
Lagu. Melodi, simponi, nada.
“Lagu apa?”
“Band indie”
“Suka?”
“Iyah”
“Bagus ya?”
“Mungkin perpaduan antara melodi yang nyaris sempurna, simponi yang indah, dan nada yang berani”
“Sok tahu, kayak ngerti musik aja”
“Haha, gue emang gak ngerti musik, tapi setidaknya gue pinter main kata”
Dia, adalah kata.
Universal. Kamu, saya, kita.
“Lo gila, gak waras”
“Mungkin”
“Gak akan pernah lebih, pahamkan?”
“Tidak”
“Stop! Jauh-jauh lo dari gue”
“Harus ya? Gue gak bisa”
“Jijik gue sama lo”
“Maaf”
“Kita gak bisa ketemu lagi”
“Dulu kata lo, cinta itu universal, jadi gak salah kan kalo gue cinta sama lo”
“Cinta itu emang universal, dan lo bebas mau cinta ke siapa ajah, tapi jangan pernah berharap untuk ngedapetin feedback”
“Gue cuma mau jujur, gue udah gak bisa pendem lagi, dan gue juga gak mengharap lo bisa terima gue”
Dia pergi, sudah 3 tahun.
Rokok. Satu batang, dua batang, tiga batang.
“Mau ngerokok berapa batang lagi?”
“Iyah sayang, ini yang terakhir kok”
“Gak bisa bayangin aku bentuk paru-paru kamu kayak gimana”
“Hehehe, aku juga”
Kini saya bersama dia. Saya, bahagia.
“Gue cuma mau jujur, gue udah gak bisa pendem lagi, dan gue juga gak mengharap lo bisa terima gue”
“Lo ngebuat gue risih, mending kita jaga jarak”
Dia pergi, sudah 3 tahun. Kini dia, kembali.
“Udah siap temenan lagi sama gue?”
“Teman? Bukannya bisa lebih?”
Dia berkata itu. Saya diam.
“Mau ngerokok berapa batang lagi?”
Saya tersenyum. “Itu bukan punya gue”
“Terus?”
“Pacar”
Dia terdiam. Saya berbicara “Cowok”
“Jadi?”
“Kita emang gak bisa, bener kata lo, dan gue bahagia sama dia”
Dia tersenyum. “Akhirnya ada yang bisa ngejaga lo”
Saya tersenyum. “Sebaiknya kamu pergi, saya sudah ikhlas”
Mimpi. Buruk atau indah?
Terimakasih telah berkunjung di mimpi saya. Baik-baik kamu di sana.
Dia sudah pergi, 3 tahun lalu. Dia sudah pergi, selamanya.
“Jen, cinta itu universal, semua bebas mencintai siapa saja” “Termaksud ke sesama jenis?” “Iya, tapi jangan pernah memaksa untuk mendapatkan feedback”
END
Selasa, 29 April 2014
LANGIT
Hari ini oranye mendominasi lukisan Tuhan
Sampai abu-abu tak dapat celah
Hitam pun enggan ke permukaan
Karena warna gelap tak akan mendapat tempat
Putih menjadi latar
Merah dan kuning hanya satu per empat
Nila juga pink hanya sekali lewat
Sementara
warna lain lebih memilih mengumpat
Hari ini oranye mendominasi lukisan Tuhan
Mungkin Ia sedang memberikan langit hadiah
Karna terlalu lama terkurung dalam derita
Kini ia, bahagia
DUA ANAK KECIL
Dua anak kecil bermain di jalan
Dua anak kecil bercanda di jalan
Dua anak kecil menangis di jalan
Dua
anak kecil tak peduli kendaraan lalu lalang
Dua anak kecil tak peduli bahaya di depan
Dua anak kecil hanya peduli dengan uang ditangan
Dua anak kecil saling
berpelukan
Dua anak kecil kedinginan
Dua anak kecil mati di
jalanan
Sekarang dua anak kecil tetawa riang
Walau tak lagi mendapat uang
Tapi kebahagiaan jelas digenggam
Ssstt… Tuhan Pun Sudah Tahu
Kamu pun terus mencari cara agar bersamanya
Kamu pun terus mencari celah agar masuk ke hatinya
Dan kamu pun terus mencari alasan agar bisa bercakap
dengannya
Lalu
kamu mengumpat dalam setiap do’a
Kamu
sembunyi dalam rumah Tuhan
Kamu
hilang dalam sebuah renungan
Lalu kamu berbisik “Ssstt… jangan kasih tahu Tuhan”
Dan aku balik berbisik “Ssstt… jangan khawatir, Tuhan
pun sudah tahu”
Dan
kamu bimbang, menangis tiap malam
Kanan,
kiri, atau tengah
Dan sampai saat ini, tak jua kau tentukan pilihan
*Jangan khawatir, tak selamanya kanan itu baik dan kiri
itu buruk, tapi tengah pilihan terburuk*
Langganan:
Komentar (Atom)













