Senin, 24 November 2014

Kenapa harus memohon mati?

Jika Chairil Anwar menulis "Aku ingin hidup seribu tahun lagi"
Maka aku akan menulis sama
Sambil berharap nasib ku juga sama
Mati diusia muda

Katanya di dalam kubur itu menyakitkan
Terlebih untuk seseorang yang banyak dosa sepertiku
Tapi aku tak peduli
Aku ingin tetap mati

Lebih baik mati dan mendapatkan siksa hingga kiamat
Daripada hidup dalam kesemuan yang merajalela
Sakit di batin lebih menyiksa
Aku benar-benar ingin mati

Persetan orang berbicara apa
Sekumpulan munafik itu terus mencibir
Orang-orang bilang mereka baik, karena dibalut kain
Ah sudahlah, aku hanya ingin mati

Adzan berkumandang, aku akan bersiap
Bukan untuk sholat, tapi untuk mengucap doa
Ku dengar ini waktu yang baik
Tuhan, balikkanlah waktu

Aku tidak ingin mati,
Sungguh
Aku hanya ingin tak dilahirkan

Minggu, 23 November 2014

Sepi

Aku suka sepi. Karena sepi membuatku tenang. Memberikanku waktu untuk membaca dan merenung. Mengajariku cara untuk berbincang dengan diri sendiri.

Aku suka sepi. Karena sepi membuatku nyaman. Melindungiku dari keramaian yang mau menelanku. Mengajakku ke tempat terbaik untuk mengumpat dari ribuan kata yang mencariku.

Aku suka sepi. Tapi kini sepi tak suka aku. Perlahan dia mengambil semua waktuku. Mengecilkan tempat persembunyianku sehingga sesak yang terasa. Mengacaukan ketenanganku dan membisingkan pikiranku.

Aku tak menangis karena aku tak peduli. Aku juga bosan dengan sepi, makanya ku biarkan dia menikam ku dengan pisau kesunyian.

Sepi kini resmi membunuhku.

Pikiranku terlalu rumit, ku putuskan menulis ini

Bagaimana rasanya dirindukan? Mungkin pertanyaannya sama dengan bagaimana rasanya jatuh cinta?

Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka saling membagi tawa. Mereka menukar cerita. Mereka menghapus airmata. Dan mereka memberikan pelukan.

Mereka juga saling mengucap rindu. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana prosesnya sehingga rasa itu muncul? Jika lama tak bertemu. Ku putuskan untuk tak memperlihatkan diri sejenak. Namun ketika ku muncul, tak ada kata "rindu" yang terdengar, tak ada pelukan hangat yang mendarat.

Sampai pada satu ketika aku terhentak. Aku bukan hantu yang tak terlihat. Aku bukan bayang yang selalu diinjak. Tapi aku hanya orang asing, ada tapi kerap diabaikan.

Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka berpasangan. Mereka berpegang tangan. Mereka bercakap mesra. Dan mereka bercumbu.

Mereka juga saling mengucap cinta. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana proses seseorang bisa jatuh cinta? Aku tak menemukan jawabannya. Pertanyaan yang terlalu susah, sama seperti ketika seseorang terus bertanya kenapa manusia harus diciptakan kalau Dia tahu akan ada yang menentangNya?

Sampai pada satu ketika aku terhentak. Karena setiap orang datang dan pergi, makanya aku tak peduli, kini kujalani hidup tak sendiri, ada keluarga yang menemani, karena mereka selalu di hati.

Selasa, 30 September 2014

Flashback

Kalo ngomongin masa-masa SMA emang gakkan ada abisnya. Dari jaman yang masih jadi adik kelas, jadi anak tengah, sampe jadi kakak kelas, itu semua punya cerita tersendiri. Kayaknya juga gakkan bosen buat ngingat apalagi ngebahasnya.

Gue bersekolah di SMK Sahid Jakarta jurusan Usaha Jasa Pariwisata atau UJP, tapi pas gue kelas dua namanya diganti jadi Usaha Perjalanan Wisata (UPW). Bodo amatlah ya, toh maksudnya sama-sama juga.

Sekolah gue gak besar, lapangannya pun kecil juga lahan parkirnya hanya bisa dipakai untuk motor dan sedikit mobil, itu juga mobil sekolah. Kantinnya pun kecil. Bangunannya berbentuk huruf “U” dengan 3 lantai. Lantai dasar digunakan untuk Tata Usaha, Ruang Kabid, Ruang Kepala Sekolah dan wakilnya (sebenarnya dideretan sini masih ada beberapa ruangan lagi, tapi gue gak tahu itu ruangan apa?), Meeting Room yang biasa dipakai juga untuk anak OSIS rapat, Ruang BP yang paling asik untuk numpang ngadem, UKS, Mushola berukuran kecil, Front Office untuk jurusan Perhotelan, Kitchen beserta Restaurant dan Mini Bar untuk jurusan Tata Boga, dan Meja Ticketing untuk jurusan UJP.

Lantai 1 untuk semua siswa kelas 3, juga ada model room untuk jurusan Perhotelan dan satu ruangan berisi komputer yang tersambung internet juga ada sistem abacus dikomputer tersebut untuk siswa jurusan UJP pada saat itu. Berbicara tentang lantai 1 dan lantai dasar, walaupun sudah ada tangga dikedua sisi bangunan sekolah gue, tapi ada satu tangga yang terbuat dari besi di dekat kelas 3 UJP. Menurut cerita dari tahun ke tahun yang gue denger si, tangga itu hanya boleh dilewati oleh kelas 3 dan tentunya juga guru, kalo ada kelas 1 atau 2 yang naik, ya tahu sendirilah akibatnya. Tapi lama kelamaan semua siswa/i baik itu kelas 3,2 ataupun 1 bebas-bebas aja menggunakan tangga itu, toh udah gak jamannya lagi ya senioritas, tapi entah kalo sekarang, semoga tetap sama. Oiya, tangga itu bernama tangga besi.

dibelakang 3 siswi itu yang dinamakan tangga besi

Lanjut ke lantai 2, kali ini ditujukkan untuk siswa kelas 2. Di lantai ini juga terdapat ruangan untuk jurusan Perhotelan yaitu model room, juga ada ruang guru, laboratorium komputer dan juga perpustakaan yang tempatnya super pe-we untuk tidur, hehehe.

Lantai yang paling atas tentunya khusus kelas 1. Di lantai ini juga ada mushola yang jauh lebih besar daripada lantai dasar, ruang osis yang lumayan jarang kepake gara-gara gak ada AC-nya, ya semua ruangan sekolah gue memang ber-AC kecuali mushola, UKS, dan ruangan OSIS, masih ada ruangan lagi di lantai 3 yang pastinya gak ber-AC juga, gudang. Tempat gue nemuin sepatu pantopel gue, hahaha kenapa nemuinnya di sini? Karena gue dan mungkin hampir semua juga kali ya ninggalin sepatu pantopel kita di sekolah, jadi beginilah nasibnya. Tapi cuma sekali aja si gue nemuin di sini, hehehe.


Sebelum gue lanjut ke gambaran ruangan kelas, gue mau ngebahas tentang seragam dulu. Karena sekolah gue swasta dan sekolah menengah kejuruan, jadi pasti mempunyai seragam berbeda. Bahkan bisa dibilang setiap hari kami mengganti seragam.

Hari Senin kami memakai seragam putih-putih, dasi hitam kaos kaki putih dan sepatu pantopel. Hari selasa memakai seragam putih-abuabu sepatu , dasi abu-abu, dan kaos kaki bebas. Hari Rabu putih-hitam-almamater, dasi hitam, kaos kaki putih dan sepatu panpotel. Hari Kamis serba krem, sepatu dan kaos kaki bebas. Hari Jum’at baju putih lengan panjang-rok abu-abu panjang dan kerudung (pastinya untuk perempuan), kalo yang non-muslim biasa pake seragam hari Selasa. Tapi biasanya gue mengganti kerudung dengan memakai dasi. Juga ada baju olahraga yang berwarna krem coklat.
Selain seragam wajib, kami juga mempunyai seragam praktek. Untuk anak UJP kami mempunya batik yang dipadu dengan rok hitam serta kaos kaki putih dan sepatu pantopel. Ketika Uji Kompetensi ditambah dengan harnet dan stocking. Untuk jurusan Perhotelan juga mempunyai seragam sendiri. Sama seperti jurusan Tata Boga mereka juga punya, seragam prakteknya tuh kayak koki-koki gitu.

Hari Senin
Hari Selasa
Hari Rabu
Hari Kamis

Hari Jum'at
Baju Olahraga
Baju Batik Guiding

Lanjut ke ruangan kelas, terutama ruang kelas gue. Karena mungkin bayaran jurusan gue lebih mahal sedikit rupiah dari jurusan lain, jadi kelas gue mendapat beberapa fasilitas dari sekolah. Ada kaca, radio plus mic-nya untuk kita belajadi Guiding, komputer, lemari, dan loker untuk 2 orang per-loker. Gak sampai situ, pas gue kelas 3, semua bangku dan meja kelas gue yang semula kayu diganti jadi bangku yang kayak kuliahan gitu. Mungkin bedanya cuma bangkunya berbusa dan mejanya bisa dinaik-turunkan. Tapi karena bangkunya kayak gini, kami jadi gak bisa naro barang banyak diatas meja yang ukurannya cuma seikhlasnya doang. Bahkan pas temen gue yang namanya Nurul Suci Riyanti buka peta, meja gue pun hilang! Hahaha, padahal bangkunya dia dan gue gak begitu dekat. Adalagi teman gue yang kesel gara-gara meja ini, namanya Putri Kosasi, ceritanya dia lagi naro bukunya di meja, setelah itu dia naro lagi tempat pensilnya di atas meja, tetapi malah terjatuh, namun pas dia baru saja ambil tempat pensilnya dari lantai, benda yang berada di atas mejanya pun ikut terjatuh, karena kesal akhirnya dia jatuhin aja semua benda yang ada di mejanya. Hmmm, FYI aja teman gue yang satu ini otaknya emang rada-rada, walaupun cantik, Tuham Maha Adil.


Gue sangat menikmati masa-masa SMK gue. Selain dari sekolah gue kerjaannya jalan-jalan mulu, ya karena sekolah Pariwisata, terlebih gue jurusan UJP atau yang lebih dikenal Travel, guru serta staff karyawan di sekolah ini pun asik-asik. Terlebih pas gue udah kelas 3, banyak banget memori yang tersimpan rapih.
Mulai dari guru-guru SMK Sahid. Ada Miss Evi wali kelas 2 gue pada saat itu yang lembut dan sabar banget. Bu Agustun guru Bahasa Indonesia, Bu Ermi guru Pkn. Mami atau Bu Sisca yang sebelum dia datang gue sempat dengar kalo dia itu katanya galak tapi pas ketemu biasa aja malah baik. Pak Agus guru paling gantenglah di sekolah gue. Pak Charli guru BP yang kece abis terus biasa juga dipanggil Pacar singkatan dari namanya. Mr. Mario atau yang lebih dikenal Joke tapi sekarang Beliau udah gak ngajar lagi di SMK Sahid, ada Pak Tatang juga wali kelas 1 tapi sama kayak Mr. Joke Beliau juga udah gak ngajar di sini lagi sebetulnya sejak gue naik kelas 2. Ada Alm. Pak Budi yang sangat baik dan sabar mengajar kami, Alm. Sensei Josep guru bahasa Jepang dari kelas 1 dan kelas 3 yang sangat mengejutkan kami ketika melihat raport nilai bahasa Jepang kita bagus. Miss Yohana guru serba bisa, kenapa? Ya karena Beliau bisa mengajar Ticketing, TPO, bahkan Guiding, tapi sebenarnya Beliau guru Ticekting. Aji guru Guiding asal Bali yang, wah, gak terdefinisikanlah, beliau ini adalah Tour Leader. Pak Bambang guru olahraga yang juga pembimbing OSIS, Pak Arga guru olahraga yang masih muda jaman kelas 3. Pak Abi Prasidi, walaupun gue gak sempat diajar sama dia, tapi karena dia juga gue bisa ikuti JFFP 2009 dan mengerti sedikit tentang dunia perfilman sampai sekarang gue benar-benar tertarik di  dunia tersebut. Pak Bakri guru Bahasa Inggris yang juga dekat dengan kami.



Daaaaan the one and only, my lovely teacher, Miss Rahmasari. Wali kelas tersayang gue jaman kelas 3. Sosok yang sangat sabar ngadepin 41 anak dengan berbagai macam karakter. Selalu di sisi kami walau sering kali dikecewakan. Penyemangat ketika kami sedang terjatuh. Sosok yang akan selalu gue ingat sampai kapan pun. Guru sekaligus kakak, orangtua, sahabat, Beliau bisa menjadi itu semua. Gue ingat ketika kita semua sedang belajar bersama di kelas, beliau melihat kita, lalu pergi, dan kembali datang dengan cemilan untuk kami semua. Ah Miss Rahma, engkau begitu perhatian dengan kita. Gue pun masih ingat, dulu setiap hari Beliau selalu megang rambut gue. Terima kasih atas semua yang telah engkau berikan. I love you J.

Surprise Ulang Tahun untuk Miss Rahma :)

Miss Rahma :)
Suprise kedua kalinya untuk Miss Rahma
Oiya, masih ada lagi, Kepala Sekolah. Jaman kelas 1 Kepala Sekolah gue bernama Ibu Winduri, sosoknya tegas dan lumayan ditakuti juga, Beliau juga ngajar, waktu itu ngajar Geopar atau Geografi Pariwisata, gue pribadi sangat menghormati beliau, karena menurut gue dibalik sikapnya yang tegas dan terkesan nakutin, Beliau itu sangatlah baik. Pertengahan kelas 2 ada pergantian Kepala Sekolah, jadi Pak Wisnu, nah kalo yang ini si, hmmm baik juga kok, asik diajak ngobrol. Ada Kepsek ada juga Wakepsek, kalo di jamannya Pak Wisnu, Wakepseknya itu Pak Masduki, guru agama Islam selain Umi. Jadi ingat jaman Ujian Praktek kelas 3, gue dan hampir seluruh siswa/i kelas gue belum hafalan surat panjang, hahaha.

Selain guru juga ada staff karyawan. Mulai dari Mbak Wati, OB sekolah yang sangat gue hormatin, Beliau yang pertama kali ngucapin selamat ke gue pas pengumuman kelulusan, makasih Mbak Wati. Ada juga Mas Gunadi yang sering digodain sama temen gue, Fanny.

Adalagi Pak Haris selaku staff TU. Mbak Dewi yang sekaligus ngajar juga. Daaaan Mbak Dian yang selalu ngacak-ngacak rambut gue kalo ketemu, hahaha. Beliau memang baik abis, walau kata siswa/i yang lain Mbak Dian sering dibilang jutek, tapi menurut gue nggak ah. Dulu gue bahkan sering kali bbm-an sama Beliau. Tapi sayang, sekarang dia udah gak ada di Sahid lagi, Mbak Dian I Miss You L.




Mungkin sampai disini dulu cerita tentang sekolah gue. Sebenarnya masih sangat banyak yang belum gue tuangkan ke sini, contohnya tentang berbagai macam watak teman-teman gue, cerita tour-tour kita. Nanti akan gue lanjutkan kembali ceritanya.


Selasa, 30 September 2014

Meike Adricka Yarangga

Keke

Rabu, 27 Agustus 2014

Funny Fanny

Bukannya aku tak ingin mengucap,
Tapi waktu itu tak ada apapun yang dapat ku berikan,
Walau kini hanya sebuah tulisan,
"Selamat Ulangtahun" dari hati ku haturkan

Hai pembuat tawa,
Saya tak tahu kabarmu kini, sedang jatuh cinta kah?
Dengan siapa? Apakah pria itu baik?

Hai pembawa bahagia,
Saya tak tahu bagaimana perasaanmu kini,
Bahagia? Sedih? Atau datar?

Hai penghapus gundah,
Saya tak tahu apa yang sangat kamu inginkan dalam hidupmu kini
Katakanlah, akan ku ucapkan "amin" di akhir kalimatmu

Semoga keberkahan selalu menyertaimu
Selamat datang di usia kembar kedua



Keke

Putry Kosasi

Namanya Putry Kosasih. Saya kenal karena kita satu kelas, dulu. Tapi mulai dekat ketika kami menjadi partner tour, dulu. Dan tak lagi bertatap muka, kini.

Bisakah memutar waktu? Balik ke belakang atau maju ke depan?
Apa yang ingin kamu lihat? Masa depan atau masa lampau?
Adakah yang ingin kau perbaiki? Di masa lampau atau bahkan di masa depan?

Hallo Cantik, apa kabar?

Saya ingin membaca kalimat selain "aku baik" walaupun itu melegakan
Tapi "aku sedih" jauh menyakitkan karena gundah di hati kini terjawab

Do'a ku haturkan,
Saya tak berharap kamu selalu baik-baik saja, mustahil
Saya berharap hidupmu jauh lebih berwarna, dan kamu bisa dengan dewasa menyikapinya

Ceritakan saya ketika kamu sudah menjadi apa yang kamu inginkan,
Akan saya coretkan ke lembar putih menjadi sebuah tulisan tentang seorang teman paling cantik yang saya punya



Selamat menjelajah impian, Putry Cantik


Keke :)

Sabtu, 16 Agustus 2014

Kami

Detik pertama, kami saling pandang
Detik kedua,  kami terdiam
Detik ketiga, kami membuang muka

Lalu kami berbicang,
Tapi tak saling berbicara

Kami tersenyum,
Tapi tak melengkungkan bibir

Kami berpeluk,
Tapi tak bersentuh

Tetapi kami berpandang,
Walau tak saling melihat

Dan kami mengumpat,
Tapi tak tersembunyi

Kamis, 14 Agustus 2014

Sahabat, saudara, partner

Sudah lama tak bercakap. Karena waktu yang tak menginjinkan, atau karena aku malah yang tak menginginkan?

Dini hari, sepi. Tidak ada suara jangkrik ataupun tokek yang biasanya terdengar. Cuma aungan anjing dari jauh. Kemarin, hari spesial untuk ketiga temanku. Mereka semakin dekat dengan mimpi. Kemarin, hari yang membuat jantung ketiga temanku berdegub kencang. Mereka sedang mempertaruhkan mimpi. Kemarin, ketiga temanku tersenyum lebar. Mereka akan meraih mimpi.

Kemarin, aku tidak ada. Tapi do'a selalu disekitar ketiga temanku. Kemarin, aku tidak ada. Tapi jantung sama berdebarnya seperti ketiga temanku. Kemarin, aku tidak ada. Mungkin untuk membiasakan diri tanpa kalian. Tanpa ada ketiga temanku yang menjadi alasanku untuk tetap pergi ke tempat itu.

Apalah arti raga jika kamu tahu do'a selalu terhaturkan?

Teruntuk sahabat, saudara, partner
Aku tak perlu ragamu, aku tahu kau selalu disisi
Aku tak perlu ragamu, aku tahu do'a terucap dari bibir
Aku tak perlu ragamu, karena rindu tak terlalu menyakiti

Selamat sarjana baru :)


Keke

Senin, 05 Mei 2014

feedback

Lo gila, gak waras itu yang dulu kamu ucapkan. Gakkan pernah lebih, pahamkan? Saya takkan pernah mau paham. Stop! Jauh-jauh lo dari gue harus ya? Saya tidak bisa. Gue jijik sama lo maaf.

***

            Rokok. Satu batang, dua batang, tiga batang.
            “Mau ngerokok berapa batang lagi?”
            “Sampe satu bungkus abis”
            “Gue gak bisa bayangin bentuk paru-paru lo”
            “Gue aja males bayangin”
            Dia beranjak.
            “Mau ke mana?”
            “Keluar, males ah jadi perokok pasif”
            Dia selalu begitu, membuat saya terpaksa mematikan rokok ini.
            “Coba dong berenti, paling nggak ngurangin deh”
            Saya hanya diam. Menekuk lutut dan menyandarkan kepala di atasnya.

            Malam. Bulan, bintang, setan.
            “Jangan keseringan di atas genteng, gak takut ada setan apa?”
            “Hahaha, dari atas ini bulan sama bintang jelas banget”
            Dia menyukai ke dua benda langit itu. Saya, tidak.
            “Mau kapan turunnya?”
            “Gak tahu, naik sini”
            “Lo tau gue takut tinggi”
            “Takut itu mesti di lawan”

            Lagu. Melodi, simponi, nada.
            “Lagu apa?”
            “Band indie”
            “Suka?”
            “Iyah”
            “Bagus ya?”
            “Mungkin perpaduan antara melodi yang nyaris sempurna, simponi yang indah, dan nada yang berani”
            “Sok tahu, kayak ngerti musik aja”
            “Haha, gue emang gak ngerti musik, tapi setidaknya gue pinter main kata”
            Dia, adalah kata.

            Universal. Kamu, saya, kita.
            “Lo gila, gak waras”
            “Mungkin”
            “Gak akan pernah lebih, pahamkan?”
            “Tidak”
            “Stop! Jauh-jauh lo dari gue”
            “Harus ya? Gue gak bisa”
            “Jijik gue sama lo”
            “Maaf”           
            “Kita gak bisa ketemu lagi”
            “Dulu kata lo, cinta itu universal, jadi gak salah kan kalo gue cinta sama lo”
            “Cinta itu emang universal, dan lo bebas mau cinta ke siapa ajah, tapi jangan pernah berharap untuk ngedapetin feedback
            “Gue cuma mau jujur, gue udah gak bisa pendem lagi, dan gue juga gak mengharap lo bisa terima gue”
            Dia pergi, sudah 3 tahun.

            Rokok. Satu batang, dua batang, tiga batang.
            “Mau ngerokok berapa batang lagi?”
            “Iyah sayang, ini yang terakhir kok”
            “Gak bisa bayangin aku bentuk paru-paru kamu kayak gimana”
            “Hehehe, aku juga”
            Kini saya bersama dia. Saya, bahagia.

            “Gue cuma mau jujur, gue udah gak bisa pendem lagi, dan gue juga gak mengharap lo bisa terima gue”
            “Lo ngebuat gue risih, mending kita jaga jarak”
            Dia pergi, sudah 3 tahun. Kini dia, kembali.
            “Udah siap temenan lagi sama gue?”
            “Teman? Bukannya bisa lebih?”
            Dia berkata itu. Saya diam.
            “Mau ngerokok berapa batang lagi?”
            Saya tersenyum. “Itu bukan punya gue”
            “Terus?”
            “Pacar”
            Dia terdiam. Saya berbicara “Cowok”
            “Jadi?”
            “Kita emang gak bisa, bener kata lo, dan gue bahagia sama dia”
            Dia tersenyum. “Akhirnya ada yang bisa ngejaga lo”
            Saya tersenyum. “Sebaiknya kamu pergi, saya sudah ikhlas”

            Mimpi. Buruk atau indah?
            Terimakasih telah berkunjung di mimpi saya. Baik-baik kamu di sana.
            Dia sudah pergi, 3 tahun lalu. Dia sudah pergi, selamanya.
            “Jen, cinta itu universal, semua bebas mencintai siapa saja” “Termaksud ke sesama jenis?” “Iya, tapi jangan pernah memaksa untuk mendapatkan feedback”

END



Kak Pipit merekamnya untukku :) ini Aimee Saras dan Karina Salim

Selasa, 29 April 2014

LANGIT

Hari ini oranye mendominasi lukisan Tuhan
Sampai abu-abu tak dapat celah
Hitam pun enggan ke permukaan
Karena warna gelap tak akan mendapat tempat

Putih menjadi latar
Merah dan kuning hanya satu per empat
Nila juga pink hanya sekali lewat
Sementara warna lain lebih memilih mengumpat

Hari ini oranye mendominasi lukisan Tuhan
Mungkin Ia sedang memberikan langit hadiah
Karna terlalu lama terkurung dalam derita
Kini ia, bahagia

DUA ANAK KECIL



Dua anak kecil bermain di jalan
Dua anak kecil bercanda di jalan
Dua anak kecil menangis di jalan

            Dua anak kecil tak peduli kendaraan lalu lalang
            Dua anak kecil tak peduli bahaya di depan
            Dua anak kecil hanya peduli dengan uang ditangan

Dua anak kecil saling berpelukan
Dua anak kecil kedinginan
Dua anak kecil mati di jalanan

            Sekarang dua anak kecil tetawa riang
            Walau tak lagi mendapat uang
            Tapi kebahagiaan jelas digenggam

Ssstt… Tuhan Pun Sudah Tahu



Kamu pun terus mencari cara agar bersamanya
Kamu pun terus mencari celah agar masuk ke hatinya
Dan kamu pun terus mencari alasan agar bisa bercakap dengannya

            Lalu kamu mengumpat dalam setiap do’a
            Kamu sembunyi dalam rumah Tuhan
            Kamu hilang dalam sebuah renungan

Lalu kamu berbisik “Ssstt… jangan kasih tahu Tuhan”
Dan aku balik berbisik “Ssstt… jangan khawatir, Tuhan pun sudah tahu”

            Dan kamu bimbang, menangis tiap malam
            Kanan, kiri, atau tengah

Dan sampai saat ini, tak jua kau tentukan pilihan






*Jangan khawatir, tak selamanya kanan itu baik dan kiri itu buruk, tapi tengah pilihan terburuk*