Selasa, 29 April 2014

LANGIT

Hari ini oranye mendominasi lukisan Tuhan
Sampai abu-abu tak dapat celah
Hitam pun enggan ke permukaan
Karena warna gelap tak akan mendapat tempat

Putih menjadi latar
Merah dan kuning hanya satu per empat
Nila juga pink hanya sekali lewat
Sementara warna lain lebih memilih mengumpat

Hari ini oranye mendominasi lukisan Tuhan
Mungkin Ia sedang memberikan langit hadiah
Karna terlalu lama terkurung dalam derita
Kini ia, bahagia

DUA ANAK KECIL



Dua anak kecil bermain di jalan
Dua anak kecil bercanda di jalan
Dua anak kecil menangis di jalan

            Dua anak kecil tak peduli kendaraan lalu lalang
            Dua anak kecil tak peduli bahaya di depan
            Dua anak kecil hanya peduli dengan uang ditangan

Dua anak kecil saling berpelukan
Dua anak kecil kedinginan
Dua anak kecil mati di jalanan

            Sekarang dua anak kecil tetawa riang
            Walau tak lagi mendapat uang
            Tapi kebahagiaan jelas digenggam

Ssstt… Tuhan Pun Sudah Tahu



Kamu pun terus mencari cara agar bersamanya
Kamu pun terus mencari celah agar masuk ke hatinya
Dan kamu pun terus mencari alasan agar bisa bercakap dengannya

            Lalu kamu mengumpat dalam setiap do’a
            Kamu sembunyi dalam rumah Tuhan
            Kamu hilang dalam sebuah renungan

Lalu kamu berbisik “Ssstt… jangan kasih tahu Tuhan”
Dan aku balik berbisik “Ssstt… jangan khawatir, Tuhan pun sudah tahu”

            Dan kamu bimbang, menangis tiap malam
            Kanan, kiri, atau tengah

Dan sampai saat ini, tak jua kau tentukan pilihan






*Jangan khawatir, tak selamanya kanan itu baik dan kiri itu buruk, tapi tengah pilihan terburuk*
 

SURAT CINTA



Sepucuk surat berwarna merah muda
Berisi sajak indah nan menawan
Setiap kata bersenandung merdu
Menjadi sebuah kalimat dalam bentuk nada

            Sepucuk surat berwarna merah muda
            Berisi puisi cinta yang romantis
            Setiap kata kau tabur rindu
            Menjadi sebuah kalimat yang eksotis

Sepucuk surat berwarna merah muda
Katamu ini surat cinta
Tapi kenapa akhirnya derita?
Karna ternyata harus berpisah

            Sepucuk surat berwarna merah muda
            Kini kita resmi berpisah
            Dengan nisan sebagai pertanda

BAHAGIA



Suatu malam, saya melihat sepasang saumi-istri. Mereka menjual suara di tepi jalan dekat stasiun kereta. Lagu lawas, tahun 80 atau 90-an. Istrinya menyanyi, sementara sang suami mengoprasikan radio usang. Suaranya lumayan bagus, menurut saya. Setidaknya bisa menghilangkan rasa bosan saya yang sedang menunggu.

Mereka berhenti ketika adzan Isya berkumandang. Lalu duduk berdua di sebuah batu besar. Berbicang, tertawa, kadang bermanja. Raut wajah keduanya jelas menunjukan kebahagiaan. Perut istrinya membesar, iya dia sedang hamil. Suara panggilan beribadah itu telah berhenti. Tapi ku dengar sang istri minta pulang. Mereka lalu beranjak, bergandengan. Dengan sebuah tongkat di tangan.


Tak bisakah kau seperti mereka?
Tetap bahagia walau benda mati sebagai mata.
Tak bisakah kau seperti mereka?
Tetap bahagia walau harus berjalan ribuan tapak kaki.
Atau tak bisakah kau seperti saya?
Tetap bahagia tanpa harus membutuhkan seseorang yang membuat bahagia.
Tak bisakah, teman?