Jika Chairil Anwar menulis "Aku ingin hidup seribu tahun lagi"
Maka aku akan menulis sama
Sambil berharap nasib ku juga sama
Mati diusia muda
Katanya di dalam kubur itu menyakitkan
Terlebih untuk seseorang yang banyak dosa sepertiku
Tapi aku tak peduli
Aku ingin tetap mati
Lebih baik mati dan mendapatkan siksa hingga kiamat
Daripada hidup dalam kesemuan yang merajalela
Sakit di batin lebih menyiksa
Aku benar-benar ingin mati
Persetan orang berbicara apa
Sekumpulan munafik itu terus mencibir
Orang-orang bilang mereka baik, karena dibalut kain
Ah sudahlah, aku hanya ingin mati
Adzan berkumandang, aku akan bersiap
Bukan untuk sholat, tapi untuk mengucap doa
Ku dengar ini waktu yang baik
Tuhan, balikkanlah waktu
Aku tidak ingin mati,
Sungguh
Aku hanya ingin tak dilahirkan
Senin, 24 November 2014
Minggu, 23 November 2014
Sepi
Aku suka sepi. Karena sepi membuatku tenang. Memberikanku waktu untuk membaca dan merenung. Mengajariku cara untuk berbincang dengan diri sendiri.
Aku suka sepi. Karena sepi membuatku nyaman. Melindungiku dari keramaian yang mau menelanku. Mengajakku ke tempat terbaik untuk mengumpat dari ribuan kata yang mencariku.
Aku suka sepi. Tapi kini sepi tak suka aku. Perlahan dia mengambil semua waktuku. Mengecilkan tempat persembunyianku sehingga sesak yang terasa. Mengacaukan ketenanganku dan membisingkan pikiranku.
Aku tak menangis karena aku tak peduli. Aku juga bosan dengan sepi, makanya ku biarkan dia menikam ku dengan pisau kesunyian.
Sepi kini resmi membunuhku.
Pikiranku terlalu rumit, ku putuskan menulis ini
Bagaimana rasanya dirindukan? Mungkin pertanyaannya sama dengan bagaimana rasanya jatuh cinta?
Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka saling membagi tawa. Mereka menukar cerita. Mereka menghapus airmata. Dan mereka memberikan pelukan.
Mereka juga saling mengucap rindu. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana prosesnya sehingga rasa itu muncul? Jika lama tak bertemu. Ku putuskan untuk tak memperlihatkan diri sejenak. Namun ketika ku muncul, tak ada kata "rindu" yang terdengar, tak ada pelukan hangat yang mendarat.
Sampai pada satu ketika aku terhentak. Aku bukan hantu yang tak terlihat. Aku bukan bayang yang selalu diinjak. Tapi aku hanya orang asing, ada tapi kerap diabaikan.
Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka berpasangan. Mereka berpegang tangan. Mereka bercakap mesra. Dan mereka bercumbu.
Mereka juga saling mengucap cinta. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana proses seseorang bisa jatuh cinta? Aku tak menemukan jawabannya. Pertanyaan yang terlalu susah, sama seperti ketika seseorang terus bertanya kenapa manusia harus diciptakan kalau Dia tahu akan ada yang menentangNya?
Sampai pada satu ketika aku terhentak. Karena setiap orang datang dan pergi, makanya aku tak peduli, kini kujalani hidup tak sendiri, ada keluarga yang menemani, karena mereka selalu di hati.
Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka saling membagi tawa. Mereka menukar cerita. Mereka menghapus airmata. Dan mereka memberikan pelukan.
Mereka juga saling mengucap rindu. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana prosesnya sehingga rasa itu muncul? Jika lama tak bertemu. Ku putuskan untuk tak memperlihatkan diri sejenak. Namun ketika ku muncul, tak ada kata "rindu" yang terdengar, tak ada pelukan hangat yang mendarat.
Sampai pada satu ketika aku terhentak. Aku bukan hantu yang tak terlihat. Aku bukan bayang yang selalu diinjak. Tapi aku hanya orang asing, ada tapi kerap diabaikan.
Saya melihat orang-orang di sekitar. Mereka berpasangan. Mereka berpegang tangan. Mereka bercakap mesra. Dan mereka bercumbu.
Mereka juga saling mengucap cinta. Lalu aku mulai berpikir. Bagaimana proses seseorang bisa jatuh cinta? Aku tak menemukan jawabannya. Pertanyaan yang terlalu susah, sama seperti ketika seseorang terus bertanya kenapa manusia harus diciptakan kalau Dia tahu akan ada yang menentangNya?
Sampai pada satu ketika aku terhentak. Karena setiap orang datang dan pergi, makanya aku tak peduli, kini kujalani hidup tak sendiri, ada keluarga yang menemani, karena mereka selalu di hati.
Langganan:
Komentar (Atom)