Kamis, 27 Maret 2014

Bintang Kecil



            Ibu pernah berkata padaku, “Andi, adikmu kini sudah menjadi bintang di langit, bintang yang paling kecil namun bintang yang paling terang”. Sewaktu kecil aku percaya, setiap hari aku selalu menunggu malam, untuk melihat satu bintang yang paling kecil namun paling terang, untuk melihat adikku. Ketika malam tiba, aku mulai mencari bintang itu, ketemu. Aku senang, aku bisa melihat adikku kembali walaupun dengan bentuk lain. Aku pun berbicara sambil melihat bintang itu, membicarakan banyak hal. Tentang Ibu, tentang sekolah, dan tentang apapun.
            Aku terus melakukan hal itu setiap malam. Sampai pada satu hari, sepupuku bilang bahawa aku bodoh. Katanya, orang yang sudah meninggal tidak akan bisa menjadi bintang atau apapun. Aku menangis mendengar hal itu. Aku marah pada Ibu yang membohongiku. Aku tidak mau makan dan aku tidak mau berbicara pada Ibu.
            Namun ketika aku memutuskan untuk mau berbicara kembali pada Ibu, ternyata aku sudah tak bisa melihatnya. Aku bertanya kemana Ibu kepada orang-orang yang berdatangan ke rumahku. Mereka menjawab Ibu sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Aku menunggu di kamarnya, sambil berharap malam ini Ibu kembali dan memeluk saat aku tertidur. Satu malam, dua malam, lalu pada malam ketiga akhirnya aku sadar. Ibu sudah pergi, tak akan pernah kembali, dan tak akan menjadi bintang di langit yang biru atau kelabu. Aku kembali menangis.
***
            Sudah 13 tahun semenjak kejadian itu. Aku kini hidup sendiri. Jangan membicarakan Ayah yang bahkan aku sudah lupa wajahnya. Seingatku dia pergi ketika Ibu mengandung adikku dan tak pernah kembali, ku harap selamanya.
            Hari ini adikku ulangtahun, dan untuk pertama kalinya aku kembali ke balkon, tempat di mana dulu aku melihat bintang yang paling kecil, namun terang. Ku ucapkan “Selamat ulangtahun, Tommy” sambil kembali melihat salah satu bintang yang dulu ku yakini adikku. Bintang itu terang, sangat terang, semakin terang, bukan hanya terang, tapi kenapa terlihat semakin dekat? Bahkan sangat dekat, ini membuat kakiku refleks mundur kebelakang, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, dan terus mundur sampai bintang itu tiba-tiba jatuh ke balkon rumahku. Cahayanya membuat mataku silau, tapi kemudian cahayanya mulai memudar, dan perlahan aku melihat seorang anak kecil dengan pakaian serba putih tersenyum manis kepadaku dan berkata, “Abang Andi”.
            Dengkulku lemas. Aku tak mampu berkata apa-apa dan hanya bisa melihat anak laki-laki yang wajahnya mirip dengan adikku, Tommy. Dia berjalan mendekatiku, tapi kakiku refleks berjalan mundur. Dia pun berhenti, melihatku dengan tatapan bingung. Lalu dia berkata, “Aku mau kue, hari ini aku kan ulangtahun, mana kuenya?”. Tanpa pikir panjang aku segera ke dapur dan mengambil sepotong kue yang memang selalu aku siapkan saat Tommy ulangtahun. Lalu aku kembali ke kamar, aku mungkin sudah gila, pikirku.
            Mungkin ketika ku kembali ke kamar, anak laki-laki itu sudah tidak ada. Tapi ternyata salah, dia malah sedang berlompat-lompat senang di tempat tidurku, lalu berhenti ketika melihat aku datang. Aku mendekatinya yang kini duduk di tempat tidurku, lalu meletakkan kue itu di depannya dan aku duduk di dekatnya. Dia memakan kue itu dengan lahap, “Minum Abang” katanya. Lagi-lagi aku menuruti dan segera mengambilkannya minum lalu memberikannya. Aku mulai menatapnya lagi, dan perlahan ingin mencoba menyentuhnya, tapi dia mengagetkanku ketika akhirnya dia berbicara kembali.
            “Abang dapat salam dari Ibu”.
            “Ibu? Kamu ketemu Ibu?” aku mencoba meyakinkan pendengaranku.
            “Iyah, Ibu juga nitip pesan, katanya Abang jangan lupa makan”.
            “Kamu sering ketemu Ibu?”.
            Dia melihatku sambil tersenyum, “Iya”.
            “Enak kuenya, makasih Abang”.
            Aku mengangguk. Lalu dia turun dari tempat tidur dan berkata, “Abang gak mau meluk aku?”.
            Aku terdiam sejenak, lalu kemudian berlutut memeluk seorang anak laki-laki yang memanggilku Abang. Tapi perlahan, hangat tubuhnya tak kurasakan lagi. Dia berubah menjadi titik-titik cahaya dan perlahan kembali ke langit. Aku terbujur kaku, tak ku sangka secepat ini pertemuanku dengan adik kecilku. Atau apakah ini hanya halusinasi? Terlebih ketika ku melihat ke tempat tidurku, sepotong kue dan segelas air putih tadi masih utuh, tak berkurang sedikit pun. Mungkin ini hanya khayal.
            Akhirnya ku putuskan malam ini untuk tidur di kamar Ibu. Sambil berharap Ibu datang dan memelukku saat tidur. Walau akhirnya cuma khayal, tapi kurasa itu sudah cukup. Karena seberapa besar aku merindukannya, tetap raganya tak bisa ku sentuh utuh, hanya bayangnya yang selalu menemani tiap khayalku. Iya, khayalku.

­-SELESAI-

-meikeadricka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar