Ibu pernah berkata padaku, “Andi,
adikmu kini sudah menjadi bintang di langit, bintang yang paling kecil namun
bintang yang paling terang”. Sewaktu kecil aku percaya, setiap hari aku selalu
menunggu malam, untuk melihat satu bintang yang paling kecil namun paling
terang, untuk melihat adikku. Ketika malam tiba, aku mulai mencari bintang itu,
ketemu. Aku senang, aku bisa melihat adikku kembali walaupun dengan bentuk
lain. Aku pun berbicara sambil melihat bintang itu, membicarakan banyak hal.
Tentang Ibu, tentang sekolah, dan tentang apapun.
Aku terus melakukan hal itu setiap
malam. Sampai pada satu hari, sepupuku bilang bahawa aku bodoh. Katanya, orang
yang sudah meninggal tidak akan bisa menjadi bintang atau apapun. Aku menangis
mendengar hal itu. Aku marah pada Ibu yang membohongiku. Aku tidak mau makan
dan aku tidak mau berbicara pada Ibu.
Namun ketika aku memutuskan untuk
mau berbicara kembali pada Ibu, ternyata aku sudah tak bisa melihatnya. Aku
bertanya kemana Ibu kepada orang-orang yang berdatangan ke rumahku. Mereka
menjawab Ibu sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Aku menunggu di kamarnya,
sambil berharap malam ini Ibu kembali dan memeluk saat aku tertidur. Satu
malam, dua malam, lalu pada malam ketiga akhirnya aku sadar. Ibu sudah pergi,
tak akan pernah kembali, dan tak akan menjadi bintang di langit yang biru atau
kelabu. Aku kembali menangis.
***
Sudah 13 tahun semenjak kejadian
itu. Aku kini hidup sendiri. Jangan membicarakan Ayah yang bahkan aku sudah
lupa wajahnya. Seingatku dia pergi ketika Ibu mengandung adikku dan tak pernah
kembali, ku harap selamanya.
Hari ini adikku ulangtahun, dan
untuk pertama kalinya aku kembali ke balkon, tempat di mana dulu aku melihat
bintang yang paling kecil, namun terang. Ku ucapkan “Selamat ulangtahun, Tommy”
sambil kembali melihat salah satu bintang yang dulu ku yakini adikku. Bintang
itu terang, sangat terang, semakin terang, bukan hanya terang, tapi kenapa
terlihat semakin dekat? Bahkan sangat dekat, ini membuat kakiku refleks mundur
kebelakang, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, dan terus
mundur sampai bintang itu tiba-tiba jatuh ke balkon rumahku. Cahayanya membuat
mataku silau, tapi kemudian cahayanya mulai memudar, dan perlahan aku melihat
seorang anak kecil dengan pakaian serba putih tersenyum manis kepadaku dan
berkata, “Abang Andi”.
Dengkulku lemas. Aku tak mampu
berkata apa-apa dan hanya bisa melihat anak laki-laki yang wajahnya mirip
dengan adikku, Tommy. Dia berjalan mendekatiku, tapi kakiku refleks berjalan mundur.
Dia pun berhenti, melihatku dengan tatapan bingung. Lalu dia berkata, “Aku mau
kue, hari ini aku kan ulangtahun, mana kuenya?”. Tanpa pikir panjang aku segera
ke dapur dan mengambil sepotong kue yang memang selalu aku siapkan saat Tommy
ulangtahun. Lalu aku kembali ke kamar, aku mungkin sudah gila, pikirku.
Mungkin ketika ku kembali ke kamar,
anak laki-laki itu sudah tidak ada. Tapi ternyata salah, dia malah sedang
berlompat-lompat senang di tempat tidurku, lalu berhenti ketika melihat aku
datang. Aku mendekatinya yang kini duduk di tempat tidurku, lalu meletakkan kue
itu di depannya dan aku duduk di dekatnya. Dia memakan kue itu dengan lahap, “Minum
Abang” katanya. Lagi-lagi aku menuruti dan segera mengambilkannya minum lalu
memberikannya. Aku mulai menatapnya lagi, dan perlahan ingin mencoba
menyentuhnya, tapi dia mengagetkanku ketika akhirnya dia berbicara kembali.
“Abang dapat salam dari Ibu”.
“Ibu? Kamu ketemu Ibu?” aku mencoba
meyakinkan pendengaranku.
“Iyah, Ibu juga nitip pesan, katanya
Abang jangan lupa makan”.
“Kamu sering ketemu Ibu?”.
Dia melihatku sambil tersenyum,
“Iya”.
“Enak kuenya, makasih Abang”.
Aku mengangguk. Lalu dia turun dari
tempat tidur dan berkata, “Abang gak mau meluk aku?”.
Aku terdiam sejenak, lalu kemudian
berlutut memeluk seorang anak laki-laki yang memanggilku Abang. Tapi perlahan,
hangat tubuhnya tak kurasakan lagi. Dia berubah menjadi titik-titik cahaya dan
perlahan kembali ke langit. Aku terbujur kaku, tak ku sangka secepat ini
pertemuanku dengan adik kecilku. Atau apakah ini hanya halusinasi? Terlebih
ketika ku melihat ke tempat tidurku, sepotong kue dan segelas air putih tadi
masih utuh, tak berkurang sedikit pun. Mungkin ini hanya khayal.
Akhirnya ku putuskan malam ini untuk
tidur di kamar Ibu. Sambil berharap Ibu datang dan memelukku saat tidur. Walau
akhirnya cuma khayal, tapi kurasa itu sudah cukup. Karena seberapa besar aku
merindukannya, tetap raganya tak bisa ku sentuh utuh, hanya bayangnya yang
selalu menemani tiap khayalku. Iya, khayalku.
-SELESAI-
-meikeadricka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar