Rabu, 26 Maret 2014

Pohon Ajaib

Pada jaman dahulu kala, ada kisah tentang sebuah pohon yang berada di tengah Hutan Warna-Warni. Para penghuni hutan percaya, pohon tersebut dapat mengabulkan setiap keinginan yang terucap. Pohon itu diberi nama, Pohon Ajaib. Banyak penghuni hutan yang mengaku bahwa keinginannya dikabulkan oleh Pohon Ajaib, inilah yang membuat seekor Kelinci juga meminta satu keinginan kepada Pohon Ajaib.
Setelah meminta satu keinginan, Kelinci ini pun menantang seekor Singa.

Kelinci itu berkata “Wahai Singa, benarkah bahwa kau adalah Si Raja Hutan?”.

Singa menjawab “Wahai Kelinci, benar yang kau ucap, aku adalah Si Raja Hutan”.

Kelinci kembali berkata “Ah, aku tidak percaya, jika benar kau Raja Hutan, bertanding lari-lah denganku, jika kau menang, aku akui bahwa kau memang Raja Hutan, namun jika kau kalah, kau harus melepaskan tahtamu dan memberikan kepadaku, perlu kamu tahu wahai Singa, aku adalah pelari tercepat di seluruh hutan ini”.

Singa pun berkata “Sombong sekali kau Kelinci kecil. Baiklah, aku terima tantanganmu, besok sore saat senja kita akan bertanding lari, seperti katamu, jika aku kalah, aku akan melepaskan tahtaku dan memberikannya kepadamu”.
Kelinci dan Singa pun akan bertanding lari mengelilingi hutan besok.
       
Kura-kura yang mendengar pembicaraan antara Kelinci dan Singa bertanya-tanya, kenapa kelinci begitu berani menantang Singa yang larinya jelas lebih cepat darinya?

Kura-kura akhirnya bertanya langsung kepada Kelinci, “Wahai Kelinci, aku heran, kenapa kau berani sekali menantang Singa Si Raja Hutan? Tidak tahukah kau bahwa Sang Raja adalah pelari yang sangat cepat?”.

Kelinci menjawab “Wahai Kura-kura, aku ingin lihat, seberapa hebat lari hewan yang kau panggil Raja itu dibanding aku”.

Kura-kura kembali berkata “Jelas sangat hebat Kelinci, larinya sangat cepat, aku pun tak yakin kau mampu mengalahkannya”.

Kelinci berkata “Tidak ada yang lebih cepat dariku Kura-kura, kita lihat besok, aku yang akan menggantikan posisinya sebagai Raja Hutan”.

Kura-kura berucap “Sombong sekali kau Kelinci, hati-hati, kesombongan bisa menjatuhkanmu”.

Mendengar ucapan Kura-kura, Kelinci hanya tertawa dan berjalan pergi.
         
Keesokan harinya, saat matahari baru muncul, Kura-kura melihat Singa sedang berlari-lari kecil dibalik pepohonan.

Kura-kura mendekati Singa dan menyapanya. “Selamat Pagi Paduka Raja”.

Singa menjawab saapan Kura-kura “Oh Kura-kura, selamat pagi”.


Kura-kura bertanya “Bila hamba boleh tahu, gerangan apa yang Paduka lakukan saat fajar baru muncul seperti ini?”.

Singa menjawab “Aku sedang berlatih Kura-kura, tidakkah kamu tahu bahwa aku akan bertanding lari dengan Kelinci?”.

Kura-kura berucap “Aku tahu Paduka, tapi untuk apa kau berlatih? Larimu sudah kencang melampaui lawanmu nanti”.

Singa kembali berucap “Kura-kura, lariku memang sudah cepat, tapi kita tidak boleh meremehkan siapapun lawan kita, karena jika kita tidak berlatih, kekalahan ada didepan mata, sementara jika kita giat berlatih, selalu ada kesempatan untuk menang”.

Kura-kura kembali bertanya “Lalu bagaimana jika Paduka tidak menang? Tidakkah itu berarti Paduka harus menyerahkan tahta kepada Kelinci sombong itu?”

Singa Kembali menjawab “Wahai sahabatku, jika Kelinci itu memang lebih baik daripada aku, biarlah dia yang memimpin Hutan Warna-Warni ini”.

Kura-kura berkata “Hamba berharap, Padukalah yang menang”.

Singa pun berkata “Terimakasih Kura-kura”.

Kura-kura berpamit pergi meninggalkan Singa dan kembali berjalan di Hutan.

Ketika Kura-kura kembali berjalan-jalan di Hutan, dia melihat Kelinci sedang asik tiduran sambil memakan wortel.

Melihat itu, Kura-kura pun menghampiri Kelinci dan bertanya “Wahai Kelinci, bukankah sore ini kau ada pertandingan dengan Paduka Raja? Ingatkah kau?”.

Kelinci menjawab “Tentu saja aku ingat wahai Kura-kura”.

Kura-kura kembali bertanya, “Lalu kenapa kau malah bermalas-malasan di sini? Tidakkah harusnya kau berlatih untuk pertandingan sore ini?”.

Kelinci kembali menjawab diiringi dengan tawanya “Hahaha, untuk apa aku berlatih? Sudah ku bilang, lariku ini lebih cepat dari Paduka Rajamu itu, jadi aku tak perlu khawatir, lebih baik kau yang berlatih”.

Kura-kura heran dengan yang diucapkan Kelinci, dia pun bertanya “Loh? Kenapa aku yang berlatih? Belatih apa?”.

Kelinci menjawab “Berlatih memanggilku Paduka Raja wahai Kura-kura”.

Kura-kura kembali berkata “Aku harap aku tidak pernah memanggilmu demikian wahai Kelinci sombong”.

Kura-kura pun melangkah pergi meninggalkan Kelinci yang tertawa mendengar ucapannya.
Sore harinya, seluruh penghuni hutan berkumpul untuk menyaksikan pertandingan antara Singa Si Raja Hutan dan Kelinci yang sombong ini.
1… 2… 3… Pertandingan pun dimulai. Singa berlari dengan sekuat tenaga, begitu juga dengan Kelinci. Namun belum setengah dari jarak yang ditentukan, Kelinci sudah kelelahan dan jauh tertinggal dari Singa. Akhirnya Singa-lah yang menjadi juaranya. Kelinci yang malu segera pergi meninggalkan tempat permainan menuju tengah hutan.
         
Sesampainya di tengah hutan, dia melempari Pohon Ajaib dengan batu seraya berkata, “Katanya kamu bisa mengabulkan setiap keinginan, tapi kenapa aku kalah dalam pertandingan ini? Gara-gara kamu, aku gagal menjadi Raja dan dipermalukan didepan penghuni hutan”.

Tiba-tiba Pohon Ajaib bercahaya, perlahan peri-peri kecil muncul. Pohon Ajaib pun berkata, “Bagaimana bisa kau menyalahkan aku atas kesalahanmu sendiri? Aku hanyalah Pohon, aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu, jika kau ingin memenangkan pertandingan itu, maka berlatihlah, bukan bermalas-malasan seperti yang tadi kau lakukan, jika kau ingin menjadi Raja, belajarlah memimpin dirimu sendiri sebelum memimpin rakyatmu, dan jika kau tidak mau dipermalukan, belajarlah untuk menghargai hewan lain”.

Mendengar Pohon Ajaib tiba-tiba berbicara, Kelinci kaget dan gemetar, “Ma… maafkan aku wahai Pohon Ajaib”.

Pohon Ajaib kembali berkata “Meminta maaflah kepada Paduka Raja atas sikap sombongmu itu”. Mendengar perintah dari Pohon Ajaib, Kelinci pun segera menghadap ke Singa.
         
Sesampainya, Kelinci segera meminta maaf atas sikapnya kepada Singa, “Wahai Paduka Raja, Hamba memohon maaf atas sikap Hamba yang tak santun kepada Paduka” sambil berlutut.

Sang Raja berbicara, “Berdirilah wahai sahabatku, tidak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah melupakan kejadian kemarin dan kejadian tadi, marilah sama-sama kita rawat Hutan kita agar tetap tentram, aman, dan nyaman”.

Kelinci terharu dengan sikap Singa, ternyata Singa memang patut menjadi Raju Hutan karena sikapnya yang sangat bijak.

Sementara di tangah hutan, Kura-kura tampak sedang tiduran didekat pohon ajaib.

Salah satu peri kecil menghampirinya dan berkata “Jail sekali kau Kura-kura, membuat seolah Pohon ini bisa berbicara, tidakkah kau lihat wajah ketakutan Kelinci malang tadi?”.

Sambil tertawa Kura-kura pun berkata, “Hahaha, biarkan saja Peri Kecil, Kelinci sombong itu memang harus diberi pelajaran”.

Ternyata Pohon Ajaib itu bercahaya karena banyak Peri Kecil yang tinggal di sana, dan sebenarnya pohon ini sama seperti pohon yang lain, tidak mampu mengabulkan setiap keinginan. Setelah kejadian itu, para penghuni hutan pun tidak ada yang memohon di Pohon Ajaib itu lagi.


-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar