Pada jaman dahulu kala, ada kisah tentang sebuah pohon yang berada di
tengah Hutan Warna-Warni. Para penghuni hutan percaya, pohon tersebut dapat
mengabulkan setiap keinginan yang terucap. Pohon itu diberi nama, Pohon Ajaib.
Banyak penghuni hutan yang mengaku bahwa keinginannya dikabulkan oleh Pohon
Ajaib, inilah yang membuat seekor Kelinci juga meminta satu keinginan kepada
Pohon Ajaib.
Setelah meminta satu keinginan, Kelinci ini pun menantang seekor Singa.
Kelinci itu berkata “Wahai Singa, benarkah bahwa kau adalah Si Raja
Hutan?”.
Singa menjawab “Wahai Kelinci, benar yang kau ucap, aku adalah Si Raja
Hutan”.
Kelinci kembali berkata “Ah, aku tidak percaya, jika benar kau Raja
Hutan, bertanding lari-lah denganku, jika kau menang, aku akui bahwa kau memang
Raja Hutan, namun jika kau kalah, kau harus melepaskan tahtamu dan memberikan
kepadaku, perlu kamu tahu wahai Singa, aku adalah pelari tercepat di seluruh
hutan ini”.
Singa pun berkata “Sombong sekali kau Kelinci kecil. Baiklah, aku terima
tantanganmu, besok sore saat senja kita akan bertanding lari, seperti katamu,
jika aku kalah, aku akan melepaskan tahtaku dan memberikannya kepadamu”.
Kelinci dan Singa pun akan bertanding lari mengelilingi hutan besok.
Kura-kura yang mendengar pembicaraan antara Kelinci dan Singa
bertanya-tanya, kenapa kelinci begitu berani menantang Singa yang larinya jelas
lebih cepat darinya?
Kura-kura akhirnya bertanya langsung kepada Kelinci, “Wahai Kelinci, aku
heran, kenapa kau berani sekali menantang Singa Si Raja Hutan? Tidak tahukah
kau bahwa Sang Raja adalah pelari yang sangat cepat?”.
Kelinci menjawab “Wahai Kura-kura, aku ingin lihat, seberapa hebat lari
hewan yang kau panggil Raja itu dibanding aku”.
Kura-kura kembali berkata “Jelas sangat hebat Kelinci, larinya sangat
cepat, aku pun tak yakin kau mampu mengalahkannya”.
Kelinci berkata “Tidak ada yang lebih cepat dariku Kura-kura, kita lihat
besok, aku yang akan menggantikan posisinya sebagai Raja Hutan”.
Kura-kura berucap “Sombong sekali kau Kelinci, hati-hati, kesombongan
bisa menjatuhkanmu”.
Mendengar ucapan Kura-kura, Kelinci hanya tertawa dan berjalan pergi.
Keesokan harinya, saat matahari baru muncul, Kura-kura melihat Singa
sedang berlari-lari kecil dibalik pepohonan.
Kura-kura mendekati Singa dan menyapanya. “Selamat Pagi Paduka Raja”.
Singa menjawab saapan Kura-kura “Oh Kura-kura, selamat pagi”.
Kura-kura bertanya “Bila hamba boleh tahu, gerangan apa yang Paduka
lakukan saat fajar baru muncul seperti ini?”.
Singa menjawab “Aku sedang berlatih Kura-kura, tidakkah kamu tahu bahwa
aku akan bertanding lari dengan Kelinci?”.
Kura-kura berucap “Aku tahu Paduka, tapi untuk apa kau berlatih? Larimu
sudah kencang melampaui lawanmu nanti”.
Singa kembali berucap “Kura-kura, lariku memang sudah cepat, tapi kita
tidak boleh meremehkan siapapun lawan kita, karena jika kita tidak berlatih,
kekalahan ada didepan mata, sementara jika kita giat berlatih, selalu ada
kesempatan untuk menang”.
Kura-kura kembali bertanya “Lalu bagaimana jika Paduka tidak menang?
Tidakkah itu berarti Paduka harus menyerahkan tahta kepada Kelinci sombong itu?”
Singa Kembali menjawab “Wahai sahabatku, jika Kelinci itu memang lebih
baik daripada aku, biarlah dia yang memimpin Hutan Warna-Warni ini”.
Kura-kura berkata “Hamba berharap, Padukalah yang menang”.
Singa pun berkata “Terimakasih Kura-kura”.
Kura-kura berpamit pergi meninggalkan Singa dan kembali berjalan di
Hutan.
Ketika Kura-kura kembali berjalan-jalan di Hutan, dia melihat Kelinci
sedang asik tiduran sambil memakan wortel.
Melihat itu, Kura-kura pun menghampiri Kelinci dan bertanya “Wahai
Kelinci, bukankah sore ini kau ada pertandingan dengan Paduka Raja? Ingatkah
kau?”.
Kelinci menjawab “Tentu saja aku ingat wahai Kura-kura”.
Kura-kura kembali bertanya, “Lalu kenapa kau malah bermalas-malasan di
sini? Tidakkah harusnya kau berlatih untuk pertandingan sore ini?”.
Kelinci kembali menjawab diiringi dengan tawanya “Hahaha, untuk apa aku
berlatih? Sudah ku bilang, lariku ini lebih cepat dari Paduka Rajamu itu, jadi
aku tak perlu khawatir, lebih baik kau yang berlatih”.
Kura-kura heran dengan yang diucapkan Kelinci, dia pun bertanya “Loh?
Kenapa aku yang berlatih? Belatih apa?”.
Kelinci menjawab “Berlatih memanggilku Paduka Raja wahai Kura-kura”.
Kura-kura kembali berkata “Aku harap aku tidak pernah memanggilmu
demikian wahai Kelinci sombong”.
Kura-kura pun melangkah pergi meninggalkan Kelinci yang tertawa
mendengar ucapannya.
Sore harinya, seluruh penghuni hutan berkumpul untuk menyaksikan
pertandingan antara Singa Si Raja Hutan dan Kelinci yang sombong ini.
1… 2… 3… Pertandingan pun dimulai. Singa berlari dengan sekuat tenaga,
begitu juga dengan Kelinci. Namun belum setengah dari jarak yang ditentukan,
Kelinci sudah kelelahan dan jauh tertinggal dari Singa. Akhirnya Singa-lah yang
menjadi juaranya. Kelinci yang malu segera pergi meninggalkan tempat permainan menuju
tengah hutan.
Sesampainya di tengah hutan, dia melempari Pohon Ajaib dengan batu
seraya berkata, “Katanya kamu bisa mengabulkan setiap keinginan, tapi kenapa
aku kalah dalam pertandingan ini? Gara-gara kamu, aku gagal menjadi Raja dan
dipermalukan didepan penghuni hutan”.
Tiba-tiba Pohon Ajaib bercahaya, perlahan peri-peri kecil muncul. Pohon
Ajaib pun berkata, “Bagaimana bisa kau menyalahkan aku atas kesalahanmu
sendiri? Aku hanyalah Pohon, aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu, jika kau
ingin memenangkan pertandingan itu, maka berlatihlah, bukan bermalas-malasan
seperti yang tadi kau lakukan, jika kau ingin menjadi Raja, belajarlah memimpin
dirimu sendiri sebelum memimpin rakyatmu, dan jika kau tidak mau dipermalukan,
belajarlah untuk menghargai hewan lain”.
Mendengar Pohon Ajaib tiba-tiba berbicara, Kelinci kaget dan gemetar,
“Ma… maafkan aku wahai Pohon Ajaib”.
Pohon Ajaib kembali berkata “Meminta maaflah kepada Paduka Raja atas
sikap sombongmu itu”. Mendengar perintah dari Pohon Ajaib, Kelinci pun segera
menghadap ke Singa.
Sesampainya, Kelinci segera meminta maaf atas sikapnya kepada Singa,
“Wahai Paduka Raja, Hamba memohon maaf atas sikap Hamba yang tak santun kepada
Paduka” sambil berlutut.
Sang Raja berbicara, “Berdirilah wahai sahabatku, tidak ada yang perlu
dimaafkan, aku sudah melupakan kejadian kemarin dan kejadian tadi, marilah
sama-sama kita rawat Hutan kita agar tetap tentram, aman, dan nyaman”.
Kelinci terharu dengan sikap Singa, ternyata Singa memang patut menjadi
Raju Hutan karena sikapnya yang sangat bijak.
Sementara di tangah hutan, Kura-kura tampak sedang tiduran didekat pohon
ajaib.
Salah satu peri kecil menghampirinya dan berkata “Jail sekali kau
Kura-kura, membuat seolah Pohon ini bisa berbicara, tidakkah kau lihat wajah
ketakutan Kelinci malang tadi?”.
Sambil tertawa Kura-kura pun berkata, “Hahaha, biarkan saja Peri Kecil,
Kelinci sombong itu memang harus diberi pelajaran”.
Ternyata Pohon Ajaib itu bercahaya karena banyak Peri Kecil yang tinggal
di sana, dan sebenarnya pohon ini sama seperti pohon yang lain, tidak mampu
mengabulkan setiap keinginan. Setelah kejadian itu, para penghuni hutan pun
tidak ada yang memohon di Pohon Ajaib itu lagi.
-SELESAI-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar