Suatu malam, saya melihat sepasang saumi-istri. Mereka menjual suara di
tepi jalan dekat stasiun kereta. Lagu lawas, tahun 80 atau 90-an. Istrinya
menyanyi, sementara sang suami mengoprasikan radio usang. Suaranya lumayan
bagus, menurut saya. Setidaknya bisa menghilangkan rasa bosan saya yang sedang
menunggu.
Mereka berhenti ketika adzan Isya berkumandang. Lalu duduk berdua di
sebuah batu besar. Berbicang, tertawa, kadang bermanja. Raut wajah keduanya
jelas menunjukan kebahagiaan. Perut istrinya membesar, iya dia sedang hamil.
Suara panggilan beribadah itu telah berhenti. Tapi ku dengar sang istri minta
pulang. Mereka lalu beranjak, bergandengan. Dengan sebuah tongkat di tangan.
Tak bisakah kau seperti mereka?
Tetap bahagia walau benda mati sebagai mata.
Tak bisakah kau seperti mereka?
Tetap bahagia walau harus berjalan ribuan tapak kaki.
Atau tak bisakah kau seperti saya?
Tetap bahagia tanpa harus membutuhkan seseorang yang
membuat bahagia.
Tak bisakah, teman?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar